Kekurangan itu bisa menjadi karisma tersendiri, Aku bersyukur menjadi diriku, tak ada orang yang sepertiku. Risna, kamu harus beryukur tiap saat yah! Kalo lupa, tilawah hari ini nambah satu lembar. Janji?

Rabu, 13 April 2011

Geerrr... Berani-beraninya...

Gerrr, "Gelo ni orang, bisa-bisanya marah-marahin aku, ngomong dengan nada tinggi, nasehatinnya pake nggak difilter lagi kata-katanya(nggak tahu kali ya, aku paling nggak bisa ditegur kasar)".
Huppz, begitulah perasaan saat kutulis artikel ini. Lima belas menit kupingku terasa sangat panas ditelpon oleh seorang saudara. Dulunya(waktu SMA, red) dia adalah orang yang paling tahu apa yang kurasakan dan sepertinya selalu tahu apa yang ada dalam pikiranku. Namun, setelah memasuki dunia perkuliahan kami menjadi beda karena universitas yang tak sama. Hal ini menyebabkan begitu banyaknya perbedaan, baik dari segi lingkungan(walau dalam komunitas yang sama namun beda penyikapannya)maupun habit komunitas itu sendiri.
Sepanjang menelpon, dia bawaannya esmosi terus, dan aku juga ikutan kesel dong. Gimana nggak??? Baru ada satu orang yang berani-beraninya marah-marahin aku kayak gitu. Selama ini, aku nggak pernah digituin(apalagi sama Ikh**n). Dia nggak tahu kali ya aku ini siapa? (huhu, mulai kumat suara hati. Hehe.. ^^) Neh dia terang-terangan marahin aku, pake suara segede toak lagi di kupingku. Dia ngomong kudiemin aja, tertekan banget aku(setelah dia berhenti, baru deh aku bilang,"puas marah-marahin aku?"). Aku paling nggak bisa nerima sugesti orang lain yang di luar dari keinginanku(kecuali aku nggak punya alasan untuk menolak dan akhirnya aku pun harus mengatakan Ya, kamu memang benar!)
Hemm, apa sih yang sebenernya diomongin orang itu? Ya, apalagi, masalah skripsiku yang belum tergarap hingga menginjak bulan ke tiga semester delapan. Aku dinasehatin habis-habisan sama dia untuk segera menyelesaikan. Dia bawa-bawa nama orangtua pula, gini nih katanya, "Inget orang tua, dek, buat mereka ngerasain kebahagiaan! Terus karirmu kan juga bukan di kampus aja. Udah mikirin kan target ke depan apa aja? Kamu juga bakal dihadapkan di dunia kerja dan nanti ketika berkeluarga, kamu kan harusnya bukan cuma di dapur, tapi membantu partnermu. Capek-capek kamu kuliah tapi ujung-ujungnya di dapur, nggak keren kan? Dapur itu memang sebuah kewajiban tapi nggak melulu di dapur kan?"
Terus dia juga bawa-bawa urusan grade, "Kalau kamu lulus di Januari 2012, itu artinya kamu berada di grade yang kurang baik. kan ada tuh wisuda di Mei 2011, september 2011, lha kamu 2012??? Ckckck."
Huppz, puas kali ya dia marah-marahin aku... (Walaupun aku tahu sebenarnya tujuannya baik). Tapi aku lebih tahu apa yang kulakukan saat ini juga baik. Bukan baik menurutku saja, tapi mudah-mudahan baik untuk dunia dan akhiratku. Aku akan lulus, Pasti! Insya Allah!

** Pelajaran berharga hari ini: belajar menerima nasehat dengan lebih berbesar hati!
"Marah itu ada karena ia memang dongkol atau karena memang dia sayang!" (begitu katanya) dan itu memang benar apa adanya... Walau sakit dan belum luwes dadaku, aku akan berusaha menerimanya... (Kalau aku berhasil menerima, berarti aku berhasil menciptakan sendiri sugesti itu)
Dan melalui QS. Muhammad: 7, akupun percaya...
Bahwa Allah akan selalu menolongku...
Menolong hamba-Nya yang tak ragu menolong-Nya...
Aku yakin!
Aku bisa!

1 komentar:

Somad mengatakan...

hem…

stelah krg lbh staon g update, skalix yg kluar, serem…!!
Atoet…!!
ni toh yg bwt pikcau…

pa pun tu yg jls kmampuan memahami stingkat lbh tinggi d atas kmampuan merasakan…
*_*