Kekurangan itu bisa menjadi karisma tersendiri, Aku bersyukur menjadi diriku, tak ada orang yang sepertiku. Risna, kamu harus beryukur tiap saat yah! Kalo lupa, tilawah hari ini nambah satu lembar. Janji?

Senin, 05 Maret 2012

Penting Nggak Penting

Beberapa waktu lalu aku mendapat telpon dari seorang pria yang tak kuingat dan kukenal nama juga nomor hapenya. Seusai memberi ucapan selamat pagi, memberitahu namanya, dan menyebutkan tempatnya bekerja suara di seberang sanapun mengatakan “Selamat, anda mendapat undian dari …. (menyebutkan operator selularku) serta menyebutkan nominal yang kuterima dari undian itu”. . Haha, tentu saja kurespon kalimatnya dengan membubuhkan tawa lucu tanda aku tak percaya dengan apa yang ia katakan. Namun dengan kalimat dan nada meyakinkan. lelaki itu tetap berusaha membuatku percaya. Hingga ia memanggilkan pimpinannya untuk berbicara langsung denganku. Kudengarkan kalimat yang disampaikan pimpinannya lalu kembali kujawab, “Maaf, saya nggak percaya”. Beberapa kali kuulang pernyataanku dan alasan-alasanku mengapa harus tak percaya. Namun tetap saja ia memaksaku untuk percaya. Dalam pikiranku, semua ini tak masuk akal. Wong aku nggak pernah ikut undian kok, bagaimana bisa menang undian? Tapi heran juga aku, meski aku tahu bahwa ada yang aneh dengan pembicaraan via telpon ini, aku tetap belum menutup teleponku. Lalu sampailah pada pernyataan, “Kalau begitu mohon mbak sekarang ke ATM terdekat dan kami akan langsung mengirimkan uangnya”. Hahaha, makin aku geli mendengarnya. bagaimana tidak, wong aku nggak punya ATM, kalaupun ada paling sudah hangus karena tak pernah kugunakan lagi. Perlahan kukatakan, “Maaf ya mbak(pimpinannya itu seorang wanita), sepertinya mbak salah orang”, Tut, langsung kuputus telepon itu.
Belum sampai semenit, Handphoneku berbunyi lagi. Yeah, dari nomor yang sama. Rupanya mereka belum puas bermain-main denganku. Baiklah, kuangkat kembali telpon itu. Ditelpon kali ini dia meminta nomor ATM temanku yang kira-kira bisa membantu penyaluran uang itu. Karena dipaksa kulibatkan satu pihak di seberang sana yang kebetulan adalah adikku di sebuah organisasi (Maaf ya, yang ngerasa pernah kurepotkan dengan telepon aneh, ini merupakan sebuah ujian seberapa besar rasa kekeluargaan kita, kalau ditipu, harus tertipu bareng-bareng. Ngeles.com :D). Saat itu aku, adekku, dan dia terhubung dalam satu jaringan (So sorry, aku nggak ingat nama kerennya nelpon rame-rame lebih dari dua pihak itu apa). Seusai adekku menutup telpon, satu pertanyaan aneh yang menambah daftar kejanggalan terhadap berita dua orang di seberang sana. You know what? Si pimpinan tiba-tiba bertanya, “Siapa itu? Pacarnya ya? Kok kayaknya deket banget?” Gedubrakkkk, tak habis pikir aku ternyata pimpinan provider bisa juga usil untuk menanyakan hal yang nggak penting. Bagaimana bisa? Haha, It was really something. :D

Atau lumayan sering rasanya mendapat kiriman sms yang sebenarnya aku nggak ngerti maksudnya apa. Tentu ini terlepas dari sms-sms yang bertemakan “Mama minta Pulsa” yang sudah popular se-nusantara ini.
Pesan singkat dari nomor tak dikenal yang paling kuingat adalah “Selamat malam Indonesia…”
Pesan ini yang paling rajin mengunjungi kotak masukku.
Ada juga yang cuma mengirimkan tiga huruf saja, “Ehm”
Atau beberapa kata lucu nan singkat lainnya yang kadang membuatku tersentak kaget baik karena pujian, ungkapan, maupun seperti mengingatkan/ wanti-wanti pernah juga singgah di handphoneku.
Meski aku nggak bener-bener paham maksudnya, entah karena iseng, nggak ada kerjaan, atau mungkin juga terlalu peduli, namun kiriman sms itu cukup menghiburku. Jika bernada sapaan, maka kusapa ia pula dengan tulus. Jika ia bernada pujian, maka semoga itu tidak menghanyutkan. Jika ia bernada teguran, semoga itu menjadi bahan renungan untuk selalu introspeksi. Meski semuanya terlihat tak penting bagi kita, mungkin dari sudut pandang yang lain hal itu menjadi penting. Intinya, penting nggak penting, silahkan mengukur kepentingan untuk semua yang kita lakukan. Semoga kita pandai memilih hal penting yang harus kita kerjakan, dan diberikan kemudahan untuk mengabaikan hal yang tidak penting.
Semangat untuk hidup kita yang teramat penting!!!

That’s a Life!

Aku Belajar dari kesedihan
Aku belajar dari ketertekanan
Aku belajar dari kehampaan
Aku belajar dari kesendirian
Aku belajar dari ketersepelean
Aku belajar dari keterkejutan
Aku belajar dari kata “ditinggalkan”
Aku belajar dari beratnya beban
Aku belajar dari airmata

Aku belajar dari kekuatan
Aku belajar dari keteguhan
Aku belajar dari cinta
Aku belajar dari semangat
Aku belajar dari tujuan

Aku belajar dari kata ‘tulus’
Aku belajar dari kata ‘rela’
Aku belajar dari kata ‘juang’
Aku belajar dari kata ‘takkan menyerah”
Aku belajar dari kata ‘sabar’

Aku belajar untuk kalimat “Ini bukan obsesi”
Aku belajar untuk manfaat

Ditinggalkan, ditekan, dibebankan, maupun disepelekan memang bukanlah hal yang bisa sekejab menghilang bagi yang merasakan. Namun itulah mahakarya dari ujian.
Kita berlatih kuat meski tengah disibukkan dengan penekanan-penekanan.
Kita berlatih tegar meski dilanda kesedihan, ketersepelean, dan keterkejutan takdir
Kita berlatih teguh dengan cara menghadapi berkali-kali ujian ditinggalkan.
Semua itu adalah tangga kehidupan.
Semuanya memang harus terlewati.
Berjuang dan bersabar melewatinya dengan tulus dan rela berbasah-basah ria dengan airmata tanpa merasa harus menyerah membuat kita merasa lebih damai menjalani hidup.
Percayalah semuanya akan baik-baik saja.
Hanya perlu persiapkan mental untuk menghadapi hal yang terburuk sekalipun,
Selalu optimis dan,
Ingat Allah.

Kesel??? Nggak Nggak Nggak Kuat…

Beberapa pekan yang lalu, aku dan beberapa rekan punya janji untuk makan bersama di sebuah rumah makan dalam rangka closing sebuah event kerjasama 2 lembaga kemahasiswaan. Saat itu kami menyantap makanan sambil membicarakan salah seorang dari kami yang tak kunjung datang. Kami terus saja menghubunginya, bahkan salah satu dari kami telah menghubunginya sejak pagi, namun tak satupun telepon dari kami ia angkat. “Ada apa gerangan dengannya?”, begitu pertanyaan yang selalu kami lontarkan antara satu dengan yang lain sambil bertatap muka mengharap mendapat titik terang. Memang, beberapa jam sebelum agenda makan bersama itu, ada sedikit masalah mengenai perpindahan waktu. yah, semacam miss komunikasi gitu. Semua menduga-duga, mungkinkah ia marah dan merasa tersinggung karena masih mempermasalahkan waktu itu. Dalam posisi seperti itu, aku sebenarnya sangat kesal pada orang yang notabenenya lebih senior daripada aku itu, namun sembari terus menghubunginya kukatakan pada yang lain, “Mungkin tiba-tiba dia ada pekerjaan mendadak yang nggak bisa ditinggal!”. Rasanya nggak mungkin juga hal sepele macam itu menjadi alasan tidak hadirnya ia di agenda tersebut.
Setelah sekitar satu jam lebih, kamipun mengakhiri makan. Mengingat ini merupakan Closing agenda dan tak ingin menciptakan rasa tak enak antara satu dengan yang lain, kamipun menyempatkan untuk memesan satu bungkus nasi beserta lauknya ditambah jus untuk salah seorang dari kami yang tak hadir. Kami memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Jreng jreng, sesampainya di rumah, orang yang kami harapkan telah berada di rumah ternyata belum pulang. Kamipun menghubunginya kembali, bahkan orang rumah ikut menghubunginya. Berkali-kali telpon kami tak ia angkat. Kekesalanku rasanya hampir di ujung tanduk sampai akhirnya telepon tersembung juga dengannya. Kupikir ini sebuah jalan terang, tapi perkataannya di seberang sana justru menjadi marabahaya bagi keselamatan pikiran dan hatiku, ibarat gunung merapi, udah saatnya hampir meletus (hehe, lebay ya..), “Saya belum bisa pulang sekarang. Datang aja ke blablabla (sambil menyebut lokasi ia berada)”.
“Apaaa?? Ngelonjak banget sih ni orang. Sudah nggak kasih kabar, terus gabisa nyempatin waktu untuk pulang barang sebentar untuk menemui kami. Keterlaluan!” Ujarku kepada salah seorang rekan.
Dengan berusaha tampil tak terlalu kesal (tapi sepertinya lumayan tampak), kamipun memutuskan untuk mendatanginya di tempat yang ia maksud.
Sesampainya di sana, aku dan partnerku yang memang suka bicara apa adanya dan lumayan ekspresif tentang apa yang dirasa langsung menceramahinya panjang lebar di depan yang lain. Kami sampaikan kekesalan padanya dengan wajah yang terlipat tiga dan nada yang lumayan tinggi bercampur khas kami yang cerewet. (Yah maaf, kalau terlalu ekspresif)
Setelah itu kami menarik nafas dan menurunkan tensi keemosian kami. Kami mulai membentuk senyum lagi dan mengatakan “Maaf lahir batin, kak!” karena semenjak lebaran belum pernah bertemu dengannya lagi.
Iapun mulai menjelaskan alasannya. Hmm, alasan yang lumayan masuk akal. Setelah ia menceritakan alasannya, kami berdua pun langsung menimpali, “Tapi konfirmasinya donk kak kalau nggak bisa, jadi orang nggak salah sangka!” ucapan itu sekaligus menyiratkan solusi atas kesalahan yang ia perbuat atas ketidaksempatannya membalas sms/ merespon telpon kami.
Setelah itu, semuanya mereda. Tak ada lagi kekesalan di antara cakap kami. Bahkan di dalamnya terselip canda yang benar-benar tulus tanpa dendam. Kami seolah melupakan kejadian yang baru beberapa jam kami alami.
Yup, semuanya berakhir bahagia, pulang dengan perasaan kenyang dan lega.
Dari peristiwa itu, beberapa yang akhirnya menjadi catatan pentingku. Adakalanya kita perlu mengungkapkan kekesalan agar kita menemukan titik terang. Tentunya kekesalan itu diungkapkan dengan cara yang masih wajar dan tidak membuat suasana makin panas. Biarkan ia mengetahui betapa kita kesal padanya dengan harapan bisa menjadi koreksi baginya agar tak mengulangi lagi. Lagipula, lebih baik diungkapkan di hadapannya kan daripada ngedumel di belakang tapi nggak dapat jawaban pasti dan solusi pun entah nyangkut dimana. Pikiran jadi dipenuhi prasangka negatif.
Hm, jadi teringat pesan seorang kawan ketika aku dan diapun tengah menghadapi perbedaan pendapat, “Seorang sahabat tidak akan mencampur antara ciuman dan tamparan”. Selama hal itu untuk kebaikan orang terdekat kita, maka sampaikan.
Satu lagi yang tak kalah penting. Hal ini biasa diadaptasi oleh kebanyakan orang. adapula kalanya kita harus menutup kekesalan dan menghiburnya dengan kalimat “Sabaaaarr, tak semua hal bisa kau pandang dari sisimu”. Berpikirlah yang jernih, jangan sampai kekesalan itu hanya muncul karena desakan keegoisan kita.

Surat Cinta sang Bodyguard Hati: Aku hanya Belum Ingin, Ma!

Dear Mama…
Kuawali suratku ini dengan mengucap syukur karena kebesaran Tuhan telah memberiku izin untuk menjadi salah satu anakmu.
Ma, boleh langsung cerita ya? Semua ini tentang sebuah keluh yang belum sempat kuceritakan sepenuhnya padamu. Bukan karena takut, namun khawatir engkau belum siap menerima semua tuturku tentang hal yang akan kuceritakan ini. Aku belum sanggup untuk bertutur secara langsung padamu, maka kuputuskan untuk menulis sepucuk surat untukmu. Semoga hatimu tak dirundung kecemasan yang terlalu dalam ya, Ma. Aku tahu engkau wanita yang mudah bernegosiasi dengan pilihan baik anakmu.
Ma, ketika berpuluh kekhawatiranmu tentangku kau lontarkan, sesungguhnya hanya cukup satu alasan yang membuatku selalu menghindar dari keinginanmu. Aku hanya punya satu alasan yang paling masuk akal untuk disampaikan padamu. Meski aku memiliki lebih dari satu jawaban, aku akan tetap memberikanmu jawaban yang sama agar kau bisa memahami apa yang ada dalam pikiranku. Jikapun engkau belum bisa memahami sepenuhnya, setidaknya dengan jawaban itu engkau bisa menghargai keputusanku saat ini. “Aku hanya belum ingin, Ma!” Begitu kan hal yang selalu kuungkapkan padamu jika engkau mulai menggerogotiku dengan pertanyaanmu yang satu itu. Pertanyaan yang sebenarnya kupingku pun telah lelah mendengarnya. “Siapa lelaki pujaanmu saat ini?”
Hm, meski hanya sanggup menghela napas panjang, sebenarnya sangat wajar mama bertanya seperti itu padaku. Aku tahu gadis seusiaku pada umumnya telah memiliki pujaan hati yang setia menemani perjalanan kuliahku yang telah mencapai semester akhir. Sementara anak pertamamu ini tak pernah lagi menunjukkan pria pujaannya pada sang mama. Ma, mungkin jika kujelaskan semuanya, engkau takkan mengerti sepenuhnya. Maka kupilih untuk mengatakan hal yang sama padamu tiap kali pertanyaan itu muncul dari mulutmu.
Ma, Ingin sekali kukatakan padamu bahwa hidup ini tak melulu soal cinta sepasang kekasih seperti kebanyakan sinetron. Tak sekedar itu, Ma. Ada banyak hal yang perlu kulakukan dalam hidupku. Terlebih aku seorang aktivis. Aku sungguh tahu, Ma, kita sama-sama punya kisah cinta. Namun kisah cintaku untuk saat ini bukan kepada seorang lelaki yang sangat kau tunggu-tunggu kehadirannya. Ma, Tahukah engkau, di luar sana(baca: kampus) aku mati-matian meminta adik-adik tingkatku untuk selalu berhati-hati dengan hatinya. Aku meminta mereka agar tidak mudah terpesona dengan rayu-rayu liar para lelaki. Aku meminta mereka agar tak mudah jatuh dan terjerat dalam cinta yang dangkal. Ma, hal ini kutanamkan pada adik-adikku bukan karena aku trauma masa lalu atau bukan karena ajang balas dendam agar patah hatiku di masalalu bisa lenyap. Sungguh, bukan karena itu, Ma. Mama pasti ikut menyaksikan betapa banyak wanita yang bunuh diri karena putus cintanya. Betapa banyak wanita yang rela kehilangan kesucian dirinya dan mengatasnamakan cinta untuk hal itu. Semua itu karena cinta yang dangkal, Ma. Aku hanya tak ingin menikmati cinta yang dangkal itu.
Ma, aku merasa dulu aku bodoh telah menangis berhari-hari karena pria yang belum tentu menjadi kekasih halalku berhasil membuatku meneteskan airmata kesedihan. Ia berhasil menghilangkan beberapa hari bahagia yang harusnya kunikmati di tiap harinya. Aku bodoh membiarkan tangannya nakal menyentuh tanganku dan beberapa bagian tubuhku. Aku malu Ma, ketika suatu hari nanti aku menikah dan suamiku bertanya, “Apakah tanganmu yang saat ini kupegang pernah disentuh orang lain?” Aku malu Ma memberikan sisa-sisa kesucianku pada lelaki terkasih dunia-akhiratku. Aku malu Ma jika suatu saat suamiku menyindirku, “Katanya cinta, tapi kenapa aku hanya diberikan sisa-sisa dari orang lain?”
Mamaku tersayang, engkau harus tahu bahwa aku ini anandamu yang sedang belajar menjaga diri dari kejahatan duniawi. Kita kan wanita, Ma. Kita pasti punya keinginan yang sama untuk dihargai. Ya, mungkin cara menghargai versiku dan engkau berbeda. Mungkin bagimu cara menghargai yang baik adalah ketika ada pria yang begitu perhatian pada wanita, kemudian ia selalu memberikan yang terbaik bagi wanitanya, dan selalu setia di samping sang wanita meski belum ada Ijab Qabul diantara mereka. Namun duhai mama, bagiku cara sebenar-benarnya untuk menghargai adalah ketika seorang pria mampu menutupkan perasaannya dan tak pernah menunjukkan kepada sang wanita hingga waktu yang tepat versi Tuhan mengamini kisah cinta sang pria dan wanita tersebut.
Duhai wanita yang telah bersusah payah membawaku di dalam perutnya selama lebih dari sembilan bulan, Ingin juga kuungkapkan padamu bahwa ruang untuk cinta di hatiku yang kau lihat kosong sesungguhnya telah terisi. Engkau mungkin belum mengerti cinta seperti apa yang kumaksud, namun cintaku ini telah menjadi prioritas bagiku, seorang gadis berjilbab yang merindukan perubahan dalam cinta. Aku sangat ingin mencari cinta yang menguatkan pundakku, mengokohkan pijakanku, dan meneguhkan kehormatanku sebagai wanita. Aku ingin mendapatkan cinta yang tidak egois. Cinta yang tumbuh dan berkembang untuk kebaikan hidupku dan orang-orang di sekitarku. Aku ingin menjadi taman bagi bunga melati. Membiarkan semua orang menikmati aromanya dan mengizinkan setiap orang yang tersentuh oleh harumnya menanam sang melati di pekarangan rumahnya. Aku ingin cintaku saat ini menjadi aroma yang sangat kuat bagi catatan hidupku. Dan aku telah menemukannya, Ma. Jika engkau bertanya bagaimana wujudnya? Maka bukan sosok yang akan kau temui. Ia tak nampak oleh pandanganmu, Ma. Ia abstrak bagi manusia namun nampak nyata untuk pengerjaannya. Dialah tanggung jawab yang diturunkan Tuhan dan harus kusambut dengan sepenuh hati sebagai aktivitas yang memenuhi hari-hariku. Aku mencintai gelar aktivis muslimah yang kusandang, Ma. Aku cinta pada training-training motivasi yang melibatkanku sebagai salah satu panitianya. Aku cinta menjadi sekretaris sebuah lembaga islam kemahasiswaan yang di dalamnya aku terlibat memudahkan administrasi dalam kerja-kerja positif bagi sesama mahasiswa. Aku cinta menjadi koordinator bidang yang bersamanya aku bisa mencerahkan kehidupan orang lain. Aku cinta menjadi ketua umum sebuah unit kegiatan mahasiswa yang di dalamnya aku bisa membantu mengoptimalkan minat dan bakat orang lain. Aku cinta kepada semua hal yang membuatku bisa bermanfaat bagi orang lain. Itulah Ma, cintaku saat ini. Cinta yang membuatku merasa bisa mengendalikan arus dunia dengan tepat dan berdaya guna bagi orang-orang di sekitarku. Cinta yang membuatku tidak takut terhadap sisi negatif dunia.
Ma, cintaku ini hebat kan? Masihkah engkau merasa ada yang kurang dari diriku yang belum juga memiliki kekasih ini? Tenanglah Ma, Jodohku tak mungkin dimiliki orang lain. Meskipun aku tak pernah menjalin hubungan dengannya, jika ia memang jodohku, Tuhan akan memberikan jalan yang baik untuk mempertemukan kami. Bahkan Ma, Tahukah engkau prioritas cintaku saat ini bisa menjadi sarana yang baik agar cinta menemukanku dengan seseorang yang memiliki cinta baik dan tak sekedar mencintaiku dengan sangat dangkal. Mama tahu Mario Teguh, kan? Itu lho motivator keren yang kita tonton sepekan sekali di salah satu stasiun televisi. Katanya, “Cukup pantaskan diri kita untuk ditemukan oleh cinta sejati”. Nah, saat ini izinkan aku memantaskan diri untuk ditemukan cinta itu, Ma. Pasti cinta sejati tidak akan salah menemukanku. Aku pokoknya percaya penuh deh dengan perjalanan cinta yang sedang mencariku. Dan kupastikan ia akan datang tepat waktu.
Duhai mamaku yang selama dua puluh dua tahun ini telah mengizinkanku menetap di salah satu ruang hatimu, masih meragukah engkau atas keyakinanku bahwa cinta yang tepat akan menemukanku suatu hari nanti? Jika mama masih meragu, baiklah Ma, aku akan jujur beberapa hal lagi padamu. Ma, jika aku mau, aku bisa mendapatkan lelaki mana saja yang kumau sekarang juga. Aku ini manis kan, Ma? Bukankah wanita manis itu mudah untuk mendapatkan seorang lelaki pujaan hatinya? Hehe, maaf ya Ma jika terkesan terlalu percaya diri, mama juga kan tahu tak ada wanita yang diciptakan Tuhan dengan fisik yang jelek. Tapi Ma, semua ini bukan karena ukuran manis dan jelek ataupun terlalu selektifnya diriku. Aku hanya ingin mematuhi jalan hidupku dan menghormati keinginan Tuhan atasku.
Ma, seperti yang telah kukatakan di awal, aku hanya belum ingin memilikinya. Jikapun aku ingin memilikinya sekarang, maka aku akan memilih untuk menikah bukan menjadi kekasihnya. Mama mau ya kehilangan anakmu secepat itu? Membiarkanku tinggal bersamanya di rumah terpisah, padahal aku belum banyak membalas kebaikanmu yang terlampau banyak itu.
Ma, aku belum pernah menyampaikan prinsipku yang satu ini padamu, ya? Lelaki sejati yang mencintaiku akan menemuimu langsung di waktu yang tepat untuk memintaku. Dia tidak akan merendahkan harga diriku dengan mengajakku menjalin hubungan sebelum ijab qabul terucap. Untuk itu Ma, boleh ya mengisi waktuku sebelum cinta sejatiku datang dengan pengoptimalan peran baikku?
Ma, prioritas cintaku saat ini membuat Tuhan belum mengizinkan cinta lain menggantikan beberapa bagian di hatiku. Mama kan juga tahu, saat banyak orang selalu mementingkan urusan pribadinya, maka aku harus semakin tidak boleh egois. Bukan bermaksud menjadi pahlawan kesiangan, Ma, tapi ini tentang resiko menjadi makhluk sosial yang peduli akan pentingnya memberi dan membagi efek positif. Mama pasti pernah membayangkan jika di sebuah jalan besar tak ada petugas kebersihan, sedangkan semua orang hanya peduli dengan perjalanannya sendiri, seberapa kotor jalan raya itu? Ah, aku tak mau membayangkannya terlalu dalam. Pikiranku terlalu sakit untuk membayangkan satu persatu keegoisan yang muncul saat ini.
Duhai Mamaku,
jika engkau tersinggung dengan kata yang kurangkai dalam surat ini, maka sujud sungkemku semoga bisa membuatmu kembali memaafkanku. Aku mohon ampun pada Tuhan atas kata dan perilakuku yang mungkin tanpa sadar telah menyakitimu.
Semoga Tuhan membalas kebaikanmu selama ini, Ma.
Satu lagi yang harus kau tahu, Anandamu ini sayang padamu. Begitu pula pada lelaki yang sampai saat ini mendampingimu beserta dua adikku, aku sungguh menyayangi mereka. Kusertakan pula salam penuh takzim pada kedua orang tuamu, Ma. Aku sungguh tak bisa kehilangan mereka.

Anandamu,
Di kamar inspiratifku, 04 Sept 2011
Nb: Ma, uang sanguku jangan dipotong ya ^^

Aku Malu

Aku malu,
sungguh malu…
Mendengar, membaca, bahkan menyaksikan.
Aku malu,
Sungguh malu,
pada kalimat sahabatku…
Pada sahabat yang kuyakini memahami
Pada sahabat yang kuyakini sama mimpinya
Aku malu,
sungguh malu,
Pada lontaran sahabatku,
Seolah menghakimi,
Seolah selalu merasa benar,
Seolah mencari pembenaran,
Seolah hanya ingin menyalahkan,
Aku malu,
sungguh malu,
Pada sahabat yang seperti bukan sahabatku
Sahabat yang senyumnya bernada sinis,
Sahabat yang menyikut,
Sahabat jalur belakang.
Aku malu,
Sungguh malu,
Pada sahabatku yang sebenarnya cita dan cintanya pun sama
Namun hanya ingin mengatakan caranya yang benar dan caraku salah
Aku malu,
Sungguh malu,
Pada sahabatku yang mengakui bahwa kebercampuran tangan Tuhanlah yang membuat kami bersahabat,
Namun seolah menyajikan pertikaianku dan nya di hadapan khalayak
Membiarkan lawan tertawa dan mengatakan, “betapa kita ini tak satu”
Seolah mimpi kita berbeda
Aku malu pada dunia,
Aku malu pada kawan,
Bahkan aku malu pada lawan,
Hanya seperti inikah persahabatan kita, teman?


Perbedaan itu indah. Tak boleh saling menyikut. Tak boleh saling menyalahkan. Izinkan aku dengan caraku dan akan kubiarkan engkau dengan caramu. Mimpi kita sama kan? Bagaimanapun aku mencintaimu, sahabatku.

Pengaruh Televisi: Begitukah Wanita Akhir Zaman?

Sekarang ini, mudah bahkan sangat mudah untuk melihat sosok wanita yang katanya sih wanita akhir zaman. Di televisi, di stasiun manapun, ketika reality show, talk show, sinetron, FTV atau apapun programnya, terlalu banyak wanita berpakaian dengan ciri khas yang sama. Ciri yang membuatku malu untuk melihatnya. Sebelum kupaparkan lebih dalam, mari sedikit mengenang masa sebelum 2011. Yang kuingat saat itu pakaian jenis “U Can See” sangatlah popular. Sudahlah, tak perlu diragukan lagi wanita-wanita masa itu akhirnya mengikuti trend “U Can See”. Memasuki 2011, terlepas dari baju model Syahrini yang terus-terusan jadi “trendsetter abiezz”, televisi mengubah dunia wanita dengan rok dan celana super pendek. Di semua program, bintang utama dan bintang tamu mengenakan pakaian yang serupa. Bahkan sampai saat kutuliskan catatan ini kusarankan pada anda, jangan pernah tanya lagi apa dampaknya bagi wanita Indonesia. Cukup pengang dan cukup sakit tenggorokan untuk menjawabnya.
Katanya,
“Pakaiannya wajar aja kok!”
“Apanya yang salah?”
“Itu hak gue mau pakai apa aja!”


Hah, sudahlah! Tak perlu berlama-lama bermain dengan tanggapan memusingkan itu. Tanggapan yang telah dibutakan oleh trend. Tanggapan yang telah memutarbalikkan fakta. Tanggapan pembenaran yang tidak dibenarkan dalam Al-qur-an. Dan tahukah anda siapa dalang dari semua ini? Siapa yang membuatnya bisa menjadi halal dalam pandangan wanita masa kini?
TELEVISI. Yah, televisi yang anda tonton itu meski ia mesin namun ia sangat provokatif. Mesinnya tidak salah, namun penggerak-penggerak di belakangnya yang membuatnya menjadi salah. Akibat provokasi-provokasi itulah akhirnya, televisi menjadi juara dalam membuat propaganda.
Tak ayal lagi inilah hasilnya:
TELEVISI MENGAJARKAN KITA UNTUK BERKATA YA PADA ALAM SADAR ANDA
TELEVISI MERASUKI BAGIAN LOGIKA ANDA UNTUK TERUS MENGAMINI DAN MENGADAPTASI CARA YANG IA CONTOHKAN
Luar biasa, bukan?
Banyak sekali contoh kekeliruan yang sepertinya sengaja dicipta dunia pertelevisian untuk wanita akhir zaman.
Pada penikmat televisi, aku hanya bisa bilang, “HATI-HATI PEMBODOHAN!”
Meski selebriti wanita di infotainment nampak sisi baiknya karena di syut pada saat sholat maupun sedang baksos, namun namanya aurat ya harus ditutup. Bukan dengan kerudung yang rambutnya masih terlihat, namun dengan kerudung yang menutup seluruh rambut dan pakaianpun tak boleh terlalu ketat.
Belum lagi sinetron-sinetron alay yang menyamakan perlakuan kepada wanita-wanita berjilbab. Wanita berjilbab dalam sinetron itu masih mudah untuk dipegang tangan ataupun pinggang atau bahkan tubuhnya.
YOU KNOW WHAT???
ITU PEMUTARBALIKAN FAKTA! ITU PENYEPELEAN TERHADAP JILBAB YANG WANITA AKHIR ZAMAN PAKAI!
Rahasia lebih dalamnya adalah:
BAHWA DENGAN TELEVISI SESUNGGUHNYA MUSUH-MUSUH ISLAM SEDANG BERGERILYA UNTUK MENJAUHKAN PARA WANITA DARI KEMUSLIMANNYA.
Pleaasee deh wahai wanita!
Anda sedang diperalat. Karena misi mereka sebenarnya adalah bukan meminta anda untuk keluar dari Islam, namun menjauh dari Islam.
Yeaahh, begitukah wanita akhir zaman? Ucap “Astaghfirullah…”

Lalu, bagaimana kita harus bersikap? Haruskah bilang pada televisi, “Elo and Gue = End!”
Hupz, bukan begitu maksudnya. Tak mengapa tetap menonton televisi, karena selama sesuatu itu tidak berlebihan kan mubah/ diperbolehkan. Hanya saja, jangan pernah menelan mentah-mentah pelajaran yang didapat dalam dunia pertelevisian. Tidak selamanya yang anda dengar dan lihat itu benar. Juga tidak selamanya yang anda dengar dan lihat itu salah. Jadi waspadalah wahai wanita muslimah! Atau para pria muslim, waspadalah!
“Ada banyak pendirian pribadi yang bisa menjadi kondisional, namun hal-hal prinsipil seperti hukum Tuhan tidak pernah bisa ditolerir”


Dengan menundukkan kepala dan hati kucoba memikirkan kembali pikiranku,
Salahkah aku bila harus malu melihat wanita-wanita di akhir zaman sekarang ini?
Salahkah aku bila sangat ingin sekali kusapa hangat ia dan kukatakan panjangkanlah celanamu wahai saudariku?
Terlalu ikut campurkah aku jika itu kulakukan?
Ketahuilah, tanpa engkau ketahui aku ini sesungguhnya meradang,
meradang karena terlalu peduli padamu,
Semoga ini bukan ego semata
Aku mencintaimu karena Allah
Klasik mungkin karena kuucapkan padamu yang tak kukenal dengan baik kepribadianmu
Aku hanya ingin berbuat baik padamu
Semoga Allah menjagamu dengan sebaik-baik penjagaan,
Semoga Allah melembutkan hatimu
Wahai adik-adikku,
wahai ibu-ibuku,
wahai nenek-nenekku,
wahai kakak-kakakku,
wahai tante-tanteku,
wahai sepupu-sepupuku,
dan wahai seluruh wanita muslimah… (Rhy)

#Semoga catatan ini tak nampak menggurui. Aku mohon ampun pada Allah untuk khilaf yang tertulis. Aku mohon maaf lahir batin jika catatan ini menyinggung ataupun melukai hati.

Semesta Mendukung

Mulai familiar dengan judul catatan ini? Yapz,judul catatan ini diambil dari judul film baru yang ditulis oleh Hendrawan Wahyudianto dan sang sutradara John De Rantau. Film yang terinspirasi dari kisah-kisah kegemilangan putra-putri Indonesia di kancah dunia internasional lewat pelbagai olimpiade sains ini mengisahkan tentang seorang anak yang sangat menyukai Sains. Menurut sinopsis yang kubaca, meski Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah) adalah anak dari sebuah keluarga miskin asal Sumenep, Madura dan bersekolah dengan fasilitas yang serba minim, namun Arif tetap menekuni kegemarannya terhadap Fisika. Hingga dengan bantuan gurunya, Revalina S.Temat, ia pun mengikuti seleksi olimpiade Sains yang akan diadakan di Singapura. Ternyata selain berhasrat untuk mengikuti Olimpiade, Arif punya misi lain. Apakah sebenarnya misi lain seorang Arif yang konon katanya cerdas ini? Silahkan tongkrongin di layar tancap kota anda. (Haha, udah mirip kayak pembawa acara SILET belum? :D)
Beralih ke catatan Mestakung (Semesta mendukung) versi sendiri. Catatan ini lanjutan dari tulisanku sebelumnya, “Is it too crazy?”. Sudah dibaca? Kalau belum, yeah kalau nggak keberatan ditongkrongin dulu. Kalaupun belum mau otak-atik, tenang aku nggak ngambek kok. Katanya Raditya Dika, “TeTeUpH CuMuNgUdH YeAcHh KaKaK!” #Alay mode on.
Catatan ini hanya sekedar awal dari rasa kembalinya semangat. Kepada sahabat-sahabat yang hidupnya kembali mengalami penurunan semangat. Kepada teman sejiwa yang mimpinya kembali terkoyak karena merasa tak ada yang mendukung. Kepada rekan seperjuangan yang rindunya pada mimpi mulai memudar. Kepada keluarga kecilku yang cintanya pun mulai merapuh, Meski akan ada alasan mengapa hal itu terjadi. Meski akan ada rayuan mimpi yang lebih menggiurkan untuk dibayangkan. Tetapkanlah mimpi yang akan didatangi. Selesaikan rajutan mimpi yang belum rampung. Jika kita yakin mimpi itu akan memberikan energi positif, sambung kembali mimpi yang terkoyak itu. Hentikan pemudaran terhadap rindu yang sesungguhnya akan membahagiakan kehidupan kita. Cintai kembali apapun yang sedang atau akan kita lakukan sekarang. Jika lantas muncul pernyataan, “Entahlah aku tak tahu, banyak hal yang akan kukorbankan untuk hal yang sebenarnya siap kutinggalkan ini!”. Maka sebenarnya itu merupakan konsekuensi. Konsekuensi yang harus kita tanggung sebagai calon peraih medali mimpi. Memang, adakalanya kita merasa sebuah kondisi akan membuat mimpi kita tertahan, namun itulah perjuangannya. Mencoba membuat keadaan sulit menjadi sebuah keniscayaan itu mungkin kan? Mencoba mencari ide-ide kreatif dengan kondisi yang sempit. Disaat pandangan mata tak mampu menemukan bahan yang memadai, maka gunakan bahan yang saat itu ada. Menggunakan istilah “Tak ada rotan, akarpun jadi”. Gantikan sesuatu yang tidak bisa kita munculkan saat itu dengan sesuatu yang lain namun ternyata bisa memiliki fungsi yang sama. Satu hal yang pasti, jika sudah berani bermimpi, maka bersiaplah untuk berkorban dan berjuang sepenuh hati untuk mimpi itu! Jika tidak siap untuk berjuang dan berkorban, maka anda hanyalah pemimpi di atas kasur. PASTI BISA! (BukanSekedarBasaBasi).
Jika ingin semesta mendukung, maka pastikan kita sudah siap dan pantas untuk mendapat dukungan! Inilah Mestakung versi saya…

****
langkah tegap kakiku, dengarkan hentakanku
kadang aku terjatuh tapi ku terus maju yeah
kejar dengan hatimu, lakukan sungguh-sungguh
apapun yang kau mau, apapun impianmu

karena di dalam hidup ini
tak ada yang tak mungkin
lihatlah kawan bulan masih bersinar
terangi malam hidup terus berjalan
raih mimpimu bulatkanlah tekadmu
mestakung semesta mendukung
(Mestakung by Goliat)
****


Catatan ini sebenarnya didedikasi untuk diri sendiri yang senantiasa ingin menjaga semangat dan tak ingin jatuh. Biasanya dengan menuliskan baik di diary ataupun catatan terbuka seperti ini, kita akan berpikir berulangkali untuk mengingkari hal yang kita tuliskan. Karena dengan atau tanpa disadari, tulisan kita merupakan ikrar kita. Itulah salah satu manfaat menulis.
#Berat untukku menuliskan hal-hal yang aku sendiri belum bisa melakukannya.