Kekurangan itu bisa menjadi karisma tersendiri, Aku bersyukur menjadi diriku, tak ada orang yang sepertiku. Risna, kamu harus beryukur tiap saat yah! Kalo lupa, tilawah hari ini nambah satu lembar. Janji?

Senin, 05 Maret 2012

Is it too crazy?

Dalam salah satu perjalanan masa depanku nanti inginnya:
ada semacam beberapa patah kata di salah satu bagian pemulanya,
ada training motivasi yang ekspresif,
diselingi dengan penampilan beberapa komunitas,
talk show (wawancara eksklusif),
plus hypnosis,
dan ditutup dengan renungan.”


Hm, apakah rencana di atas terdengar gila? Biasa aja kan? Tapi jika kukatakan mimpi yang kumaksud untuk event apa, apakah semuanya akan berubah menjadi gila? Apakah semuanya bakal bilang hal itu nggak mungkin lah. Beneran nggak masuk akal lah. Mustahil lah pokoknya.
Hoamm, bener nggak ya semua itu illogical untuk sebuah mimpi masa depanku? #Bubble on my mind

Aku tidak akan mengatakan event yang kumaksud, intinya aku ataupun kamu yang tengah (sengaja atau tanpa sengaja) membaca tulisan ini pasti sama-sama pernah merasakan betapa kita telah membuat perencanaan gila yang kita nggak tahu persis seberapa masuk akal rencana itu untuk dijalankan. Kita berkali-kali bertanya dan memastikan pada diri sendiri, “Mungkinkah?”, “Mampukah?”
Dengan dua macam pertanyaan beserta kawan-kawannya itu sebenarnya kita sudah menjadi pemimpi yang dangkal. Pemimpi yang hanya berani untuk bermimpi indah di kasur, namun tak mau mengupayakannya menjadi nyata.
Mimpi itu justru terlalu lemah karena kita sendiripun meragukannya.


So, Gimana donk??

Mengutip sebuah Timeline Twitter Mario_Teguh, "Mimpi yang kuat, adalah yang kalau tercapai, selain membuat Anda senang, Ia bermanfaat juga untuk orang banyak."
Maka tenagai mimpi itu dengan harapan bisa berenergi baik bagi orang lain. Jika kita sudah berhasil mengizinkan keikutsertaan kesenangan orang lain dalam mimpi kita maka tugas selanjutnya adalah Hancurkan semua batas yang membuat kita berpikir, “Semua ini nggak mungkin, it’s too crazy!”
Kembali katakan pada pikiran kita itu, “Ah, semua itu mungkin lah! Bodo amat apa kata orang, yang penting I know the best one for me.”
Bodo amat ini bukan maksudnya nggak mengedepankan logika lho ya. Tetep pake logika lah kalau nyusun mimpi itu. Nggak mungkin dong mimpi suatu hari nanti bisa terbang tanpa alat bantu apapun, itu kan bener-bener illogical. Yeah, you know lah seberapa parah kegilaan mimpimu itu. ^^
Lanjut lagee, setelah berhasil menghancurkan batas yang bisa menghilangkan mimpi itu, maka saatnya atur strategi. Terserah mau pake strategi 4-4-3 (ada nggak ya) atau 1-2-1(Wiro Sableng dong ^^) yang penting atur strategi. Semakin gila mimpi yang kita buat, semakin gila strategi yang kita rancang.
Atur strategi selesai, saatnya take action! Actionnya harus lebih gila lho ya. Harus lebih kencang. Atau paling nggak, sama gila dan kencengnya pas mulai merajut mimpi dan nyusun strategi. Tapi ingat, kembali perhitungkan kegilaanmu itu. Gila bermimpi, atur strategi, dan action sih dianjurkan, tapi jangan sampai ngebuat orang lain gila beneran karena yang kita minta itu illogical macam simsalabim gitu terus bisa terbang. Sekali lagi pastikan mimpi itu masih berada dalam batas logika dan masih mungkin untuk dilakukan.
Sudah mengerjakan semua tahapannya? Maka tunggu hasilnya. yang tak kalah penting silahkan berdoa segila mungkin untuk hasil terbaiknya!

Masih ragu untuk mewujudkan mimpi gilamu?
Katakan, “Semua ini gila, berat, dan aneh, tapi semua ini (masih) mungkin untuk kuupayakan!”
Masih belum punya mimpi gila?
Minta pada Tuhan, “Ya Tuhan, pertemukan aku dengan orang-orang gila yang sukses dengan kegilaannya!”
Aku bercanda kawan, tapi aku serius dalam candaanku.
Semangat mentenagai mimpi gila!
Semoga kita sukses dengan mimpi gila kita,
Jikapun tidak, selamat anda ternyata gigih luar biasa!
Anda sukses dengan kegigihan anda! ^^

(Ris, merajut mimpi gila di kamar inspiratifku, duh kerennya mimpiku (sengaja membiarkan nggak ada yang ngerti sama mimpi yang kumaksud), intinya dengan mimpiku aku bahagia, kamu dan diapun tercerahkan)

Tentang Sabar

Rencana yang harus dilakukan sepekan ini sudah ditulis selembar penuh. Lebih dari tujuh agenda besar terpampang di lembaran itu. Poin-poin dari tiap agendapun sudah disusun sedemikian rupa. Bercabang, yosh itulah yang akan ditangkap dari tujuh agenda bersama poin-poinnya. Semua agenda harus diupayakan untuk selesai. Semua agenda meminta mata kita untuk memberi perhatian padanya. Semua agenda menuntut sentuhan cekatan kita untuk turut andil. Semua agenda meminta badan yang hanya satu ini berbagi secara adil pada mereka. Pokoknya semuanya harus dapat bagian. Lalu sekarang, harus mulai darimana? Yang mana yang harus dikerjakan duluan? Sanggup ga semuanya dikerjakan dengan kondisi yang serba terbatas ini?
OMG, BISA GILA DIBUATNYA KALAU BEGINI CARANYA!
Kalau dipikir secara sempit, memang benar badan cuma satu. mata, tangan, kaki cuma dua. Tapi saat kita menyadari kata ‘cuma’ yang diucapkan barusan, saat itu juga kita harus ingat ada banyak orang yang kurang beruntung hidup dengan badan tidak sempurna namun mampu berkreativitas melebihi apa yang bisa dilakukan orang normal.
Saat kita ingin protes ‘mengapa harus aku yang melakukannya?’ atau ‘mengapa hanya aku yang harus tertekan dengan tanggungan ini?’ maka saat itu juga kita harus tahu diri untuk tidak sombong karena masih banyak orang yang memiliki tekanan lebih besar namun mereka mampu melewatinya.
Saat kita merasa mungkin kita yang paling menderita, saat itu pula kita harus sadar yang kita hadapi ini belum seberapa. Kita belum disiksa dengan bara. Kita belum dihadapkan pada penggorengan. Kita bahkan tak tahu betapa sakitnya saat kaki dan tangan diikat dan ditarik dari empat arah.
Ini hanya masalah mental.
Ini hanya masalah seberapa cekatan.
Ini hanya masalah seberapa pandai menempatkan waktu dan diri untuk berbuat adil pada hal-hal yang telah menuntut haknya.
Sabar…! Jika semua itu membuat berat. Maka ringankan dengan menyelesaikannya. Jika tak bisa bersamaan, maka selesaikan satu hal dulu, baru beralih ke yang lainnya. Jangan dzolim dengan hal yang harusnya bisa diselesaikan dengan baik, tapi karena terburu-buru jadi kurang optimal.
Sabar..! Hidup tidak menuntut kita untuk melihat hasil sesuai dengan yang kita rancang diawal. Mungkin di perjalanannya, kita akan menyaksikan keajaiban yang tak pernah kita duga sebelumnya.
Sabar,,! Semuanya butuh proses. Tak bisa langsung jadi. Janganlah berbicara lagi. Tak perlu protes. Kurangi keluhan. Sekarang lakukan dengan sebaik-baik usaha.

"Salamun `alaikum bima shabartum" (keselamatan bagi kalian, atas kesabaran yang kalian lakukan).

5W+1H Unfaithful = Maaf, Aku Galau!

Pernah punya kisah tentang unfaithful? Terserah, apapun posisi anda untuk kasus yang satu ini. Sebagai subjek ataupun objek, Terserah, untuk kasus apapun itu. Entah sebagai dua sejoli, rekan kerja, atau apapun adverb yang anda gunakan untuk memperlengkap deskripsi tentang Unfaithful. Intinya semuanya terasa tak setia. Semuanya terasa berbanding terbalik dengan janji-janji bahagia kehidupan. Meski telah berjanji setia untuk bahagia, namun semuanya diingkari. Semuanya benar-benar menjadi tak setia untuk jiwa kita yang berkomitmen bahagia. Ketidaksetiaan yang menyebabkan hilangnya hari ceria kita. Semua itu dikarenakan 5W+1H unfaithful.
Akhirnya, 5W+1H unfaithful menjadi alasan kita untuk mengatakan, “Maaf, aku galau!
Apa yang sering anda lakukan ketika galau?
Menikmati kegalauan dengan senantiasa memikirkan 5W+1H penyebab galau?
Membiarkannya bertebaran di kepala?
Atau melupakannya dengan berbagai cara?
Kalau aku biasanya memilih opsi yang ketiga. Cara yang kugunakan juga sangat familiar.
1. Menyalakan TV dan mencari channel yang non-sinetron galau, misalnya OVJ
2. Masuk kamar, ambil laptop, pasang earphone, dan menikmati lagu yang lumayan lebih kencang daripada biasanya sembari membaca dan/atau mengerjakan sesuatu
Hehe, nggak muslimah banget yach cara yang kugunakan? (semoga nggak banyak bertebaran pikiran negatif deh ^^).
Sebenarnya masih banyak cara yang lebih positif daripada yang sering kugunakan. Mungkin styleku memperbaiki suasana hati tak lebih baik dari anda. Namun, apapun cara yang kita gunakan, pada intinya yang diinginkan adalah kembalinya rasa tenang ke dalam jiwa kita. Di balik tidak setianya sekian orang di sekitar kita, tidak setianya kisah hidup untuk membuat kita selalu tersenyum, kita harus tetap setia pada tiga kata ini, “I am happy!”. kita sangat berharap untuk kembali bahagia kan? Berikan keleluasaan untuk unfaithful yang menjadi penyebab eksternal kegalauan menyingkir dengan sopan dari kehidupan kita. Yuk bareng-bareng latihan tetap bahagia meski galau. Yuk, latihan setia sama harapan kita yang pengen bahagia for the rest of our life. Yuk latihan memenuhi hak kita untuk bahagia. Sudah cukup dunia galau menjadi mitra kita. Sudah saatnya trending topic ini diakhiri. Putuskan hubungan kita dengan galau, “Elo and Gue? End!”
Sepakat?
"Saat yang baik untuk menikmati bahagia yang ekspresif! Dikatakan melalui bibir bahwa kita bahagia, diyakini dengan hati bahwa kita benar-benar bahagia, dan diekspresikan dengan senyum dan cerahnya wajah anda!
Selamat berbahagia!


#I don't wanna hurt anymore _traumamasalalu_backsound: Unfaithful (Maaf ya mbak Rihanna, him-nya di lirik yang ini diilangin)

Salam setia..

Speechless

A beautiful gift for a great day. Sepertinya begitu temaku malam ini. Momen galau sudah terlewati setelah seminggu kali ini terasa begitu lama. Seminggu yang terlalu lama untuk tidak turut mengambil air wudhu. Seminggu yang terlalu lama dengan tanpa menyentuh mushaf. Pokoknya seminggu ini terlalu lama bagiku.

Senja tadi, seperti biasa ketika si Ridho (adik ndutku yang super duper nakal) mulai menguasai channel tv, aku memilih masuk kamar dan menyalakan laptop. Memasang earphone dan meng’klik file dzikir al-ma’tsurat. Entahlah, dzikir soreku kali ini terasa begitu berbeda. Begitu menyentuh. Apalagi ketika sampai pada rangkaian doa robithoh, doa transfer kekuatan dan kedekatan hati. Kuambil duduk yang paling sopan, lalu mengangkat kedua tanganku seraya membaca doa yang juga terdengar di earphoneku. Aku lalu membayangkan satu persatu wajah orang yang kukenal di sebuah zone yang akhir-akhir ini menjadi fokus kegalauanku.

“Tersadarku dari khilafku, bersujud memohon ampunan, atas segala dosa-dosaku”, nada dering handphoneku berbunyi. Namun telepon itu kuacuhkan. aku tetap fokus bersama doaku. Tak lama nada pesan ikut berbunyi, tetap kuacuhkan. Lagi, untuk kedua kalinya nada pesan kembali berbunyi. Kuacuhkan hingga doaku selesai. Setelah mengusap tangan ke wajah, kubuka dua pesan tadi. Dan salah satunya hampir membuatku menitikkan airmata. Aku tak mampu menekan tuts-tuts hapeku untuk memberi jawaban padanya. Kupilih mengirim ulang pesan itu ke rekan yang mengerti permasalahan ini dan di depan pesan kutuliskan, “Ada ide nggak balasan yang bagus gimana?” I was really speechless. Sebuah pesan yang isinya sama persis dengan hal yang sangat kuharapkan. Sebuah pesan yang membuat nafasku yang tadinya tersengal-sengal mulai bergulir teratur. Sebuah pesan yang menumbuhkan harapan baru dibalik usangnya harapan. Maha suci Allah dengan segala kuasanya.

“Allah ya Rahim, jawaban-Mu atas doaku hari ini begitu membuatku tak mampu berkata-kata. Benar-benar membuktikan bahwa hanya Engkaulah yang mampu membolak-balikkan hati manusia.”


“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, “Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.”

Termehek-mehek


(Pesan sebelum membaca: Jika catatan ini alay dan mellow, mohon dimaafkan... Kali ini bukan tentang motivasi ataupun artikel bermakna, hanya cerita tentang orang-orang yang berarti di sekitarku. Full hanya ingin mengabadikan cerita pribadi)


Begitulah tema sehari dua malam ini. Termehek – mehek yang sangat berwarna. Lelehan airmata yang akan menjadi hal yang tak terlupakan. Begitu berkesan. berkesan karena sangat menyakitkan, berkesan karena tak pernah terduga, dan berkesan karena hal ini sangat tidak lucu. Aku harus mengalami double broken-heart (alay mode on, hee..).

Semua ini diawali dengan terkirimnya sebuah undangan yang kutulis melalui pesan singkat. Keluarga kecilku di sebuah lembaga internal kampus saat itu (12/11) kuundang dalam ‘agenda makan bersama’ di rumah. Pada saat yang sama, lembaga itupun tengah menggelar acara internal bersifat pelatihan kilat anggota baru. Tak ada yang bisa ditunda, tak ada yang bisa dikalahkan. Meski agenda di rumah sama sekali bukan keinginanku, namun menyakitkan rasanya ketika racikan bumbu-bumbu sang ibu (yang merencanakan agenda ini) sejak sepekan lalu kubatalkan mentah-mentah. Sempat dua hari sebelum hari H mendebatkan tentang ini, namun yang kudapat hanyalah dilema dan pernyataan dari hatiku sendiri, “betapa teganya kamu kalau sampai mengecewakan ibu!” Jadi, dalam waktu bersamaan, dua agenda yang berbeda itupun berjalan. Dan tentu saja kali ini kuprioritaskan diriku di hari H untuk membantu ibu di rumah dalam agenda tersebut. Sehari sebelumnya, prioritasku adalah mengerjakan apa yang bisa kuselesaikan untuk pelatihan kilat di lembaga tersebut. Meski tetap sedikit bersitegang karena ibu sedang sibuk untuk menyiapkan konsumsi di hari H, namun akhirnya aku bisa izin untuk pergi ke kampus di hari itu. Bersama dua rekan lainnya, kami menyelesaikan administrasi, membeli cinderamata dan memesan konsumsi, mengecek tempat acara, mengkonfirmasi kembali tiga pemateri kepada personil yang ditugaskan, mencari link perlengkapan yang dibantu personil, memastikan kehadiran panitia esoknya, memastikan petugas acara, memberikan info petugas yang fix, penghubungan komunikasi antara personil satu dan yang lainnya, membuat dan mengirim desain plakat pada malam harinya, mengirim woro-woro ke seluruh peserta (personil baru) untuk hadir 15 menit lebih awal, serta tak lupa meninggalkan pesan-pesan penting untuk hari H ke pengurus inti. Meski pasti ada yang luput dari ingatanku dan membuat gelabakan para panitia lainnya untuk segera melengkapi, namun paling tidak aku tidak meninggalkan mereka begitu saja.

Jreng Jreng… Hari yang ditunggu pun tiba. Setelah bangun tidur, shalat, aku bergegas ke dapur membantu ibu yang selalu bangun lebih awal. Tentunya dengan tetap menggenggam handphone. Aku tahu di hari H pelatihan kilat lembaga internal ini, pasti banyak hal penting yang perlu dikabarkan ke panitia yang standby di TKP, juga akan ada banyak hal yang akan ditanyakan panitia lainnya padaku. Jadi hari itu, meski aku izin tak berangkat di acara lembaga itu, namun aku tetap mencoba ‘mengirim signal’ dari jauh agar tak ada panitia yang merasa kutinggalkan. Aku siap siaga kalau ada pesan dan telepon yang masuk agar tak terjadi miss communication. Sesekali ketika kira-kira sudah separuh waktu diklat, kusempatkan untuk bertanya ke beberapa personil, “apa kabar diklat di sana?”

Teng… Waktu menunjukkan pukul 05.30 wite. Menurut susunan acara yang dibuat, agenda diklat hari pertama sudah selesai. Aku tetap asyik menemani tamu yang sedang makan sembari melihat jam. Aku meminta seluruh panitia dan peserta ke rumah setelah diklat selesai. Tentu ibu sudah menyisihkan konsumsi untuk mereka. Namun hingga maghrib menjelang, tak ada satupun wajah mereka muncul.

“Mungkin setelah maghrib baru mereka ke rumah,” begitu pikirku.

Waktu maghrib selesai, azan Isya pun berkumandang. Namun belum ada tampang-tampang mereka muncul di depan rumah. Lalu kukirim sms ke dua panitia yang kutitip pesankan agar bisa mengkoordinir teman-teman lainnya untuk ke rumah setelah acara selesai, “Ga ada anak ujur yang bisa ke rumah ya?

Kira-kira jawabannya begini (meski tak persis), “Acaranya baru selesai jam 6an lewat tadi, karena pemateri datang telat, tadi teman-teman udah pada capek, jadi langsung pulang.”

Di situ aku mulai patah hati dan memilih masuk kamar. Kubalas pesannya lagi, “Yah padahal kalian masih kutunggu sampe sekarang (saat itu hampir pukul 08.00 malam).”

Diapun menjawab (lagi-lagi tak sama persis, karena pesannya sudah kuhapus), “Kamu cuma nunggu, padahal kami di sini bolak-balik nyari perlengkapan yang kurang. Taulah di sini tadi panitianya sisa empat orang.”

Patah hatiku mulai bertambah mendapat sms itu. Lalu kujelaskan bahwa meski aku di rumah aku tetap kepikiran dengan Ujur. Aku juga kan dari tadi usaha buat bantu. Meski kurang, mohon maaf untuk hari ini.”

Dari situ aku mulai berpikir nggak ada yang peduli denganku. Padahal tiap kali ada undangan Ujur’s Family aku berusaha sekali untuk bisa mengajak yang lainnya agar bisa memenuhi undangan.

Mulai meleleh airmataku, tapi segera kuhapus karena beberapa saat kemudian dua orang rekanku (Kak Muharram dan Tara) datang ke rumah. Merekalah yang menjadi saksi kembali lelehnya airmataku. Airmata yang tak bisa tertahan lagi saat salah satu dari mereka bertanya, “Anak ujur siapa aja yang ke sini?” (untung mereka berdua adalah orang yang sudah akrab denganku… maaf ya membuat nafsu makan kalian berkurang :D)

Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Belum ada yang datang. Tak ada satupun dari Ujur yang bisa mewakili. Aku sedih luar biasa. Kupaksa untuk menahan dulu airmata (aku tak mau dilihat orang rumah). Lalu kukatakan pada ibu, “ayo ma, kita bereskan aja makanannya. Mereka ga datang.”

Setelah semua selesai, aku masuk kamar dan leleh kembali airmataku.

Satu lagi kata-kata dari dua panitia yang begitu dekat denganku namun serasa mengupas hatiku. Aku hanya ingin mengkonfirmasi sebenarnya dan sekaligus meminta maaf karena rasanya baru kali ini tak bisa maksimal membantu di acara, “Kita capek banget tadi, Tolong donk ngertiin kita, ndut (panggilannya buatku).”

Langsung dah tuh pikiranku kemana-mana, “Kok setipis itu sih persahabatan kalian? Koq nggak ada yang peduli? Yah paling nggak, ada dua atau tiga orang lah yang mewakili, tapi ini nggak ada satupun. Sebenarnya ini bukan masalah momennya dalam rangka apa, tapi masalah pengharapan yang terlanjur dititipkan agar bisa datang. Karena dari awal sudah kukatakan bahwa undangan prioritas adalah mereka.”

Sembari terus menangis, pikiran itu juga sempat kusampaikan ke seniorku di Ujur. Lalu kutanyakan padanya, “Apakah aku egois karena aku patah hati sedalam ini? (Lebay yaa, tapi baru kali ini aku ngerasa nggak ada yang peduli sama aku di Ujur L )

Sedikit demi sedikit aku berusaha mengerti keadaan mereka yang mungkin sedang lelah sekali setelah diklat hari pertama. Namun lelehan airmata tak berhenti hingga pukul 23.00. Bahkan tawaran seorang kakak lintas UKM (MAC) untuk turut membantu membawakan makanan yang masih lumayan banyak ke Ujur esoknya kutolak karena masih patah hati. Tapi satu pesan yang kudapat darinya dan kata-kata itu menjadi pembatas tindakanku agar tak bersikap sembarangan. “Besok upayakan kamu tampil seperti tidak terjadi apa-apa. Jangan menunjukkan kesedihanmu di hadapan mereka. Kamu itu seorang ketua. ”

Esoknya, aku benar-benar menjalankan pesannya. Meski sempat mengeluarkan sedikit singgungan ke salah satu personil yang sepertinya tega sekali mengirimkan pesan bernada tak enak kepadaku (tapi mudah-mudahan masih singgungan cantik). Namun aku terus mencoba menghilangkan rasa patah hatiku semalam suntuk. Kucamkan dalam pikiranku, “Aku harus professional! Aku harus professional! dan aku harus professional! Sakit hati dan kecewa boleh, tapi jangan sampai mengorbankan kepentingan orang banyak.

Sekitar pukul 12 siang, materi aplikatif diklat selesai. Aku menjelaskan beberapa planning lembaga ke semua anggota baru. Seusai itu, menurut jadwal sudah tak ada agenda lagi. Namun salah satu personil (Sari) ingin memutarkan video. Aku hanya berpikir, “Ohh mungkin video yang harusnya diputar kemarin belum diputar, jadinya diputar hari ini”.

Wokeh, Windows Media Player mulai diputar. Aku berpindah duduk ke barisan belakang peserta. “Mohon maaf sebelumnya jika video ini terlalu alay untuk disimak semoga terhibur,” begitu pembukanya.

Dari barisan paling belakang, aku tetap menanti (kayak judul lagu nikita willy yak? Hee) dengan wajah santai dan sangat biasa. Tapi lha kok yang nongol biografi singkatku? Ada tulisan narsis lagi di slide ke tiga. Begini tulisannya,

“dan sering menyebut dirinya mirip artis Nikita Willy”.

Aku masih berpikir polos, “Oh mungkin pembukanya aja. Selanjutnya ya tentang visi dan misi Ujur.”

Namun setelah membaca slide selanjutnya, ternyata aku keliru menafsirkan, isinya begini: “Dan hari ini kita adalah saksi, beliau genap berusia 22 tahun.”

Gedubraakkk, ini mah videonya hanya tentang orang yang emang mirip sama Nikita Willy aja! Slide selanjutnya berisi rekaman ucapan selamat. Kayaknya dari sini, mulai leleh lagi airmataku setelah semalam suntuk ngerasa patah hati (hadoeh kenapa aku cengeng banget yak??? @,@. Udah cukup bengkak rasanya mataku nangis semalam). Ucapan yang pertama, edisi all anggota baru Ujur (ini nih bikin aku malu setengah mati, ngapaen anak-anak baru semuanya serempak diminta ngucapin selamat HUT, malu tau), terus ada juga anak BEM (ditulis anak buah Pak Dimas), Yudi dan Naufal yang gayanya Unyu-unyu banget haha, Luthfi yang sok cool, Leni yang sumringah, Mardiyah yang centil (makanannya kan kemaren dimasak-masak sama BEM :D), Daniel yang pemalu, Dhepta (Ketua Panitia PIKMA) yang dah kayak kenal lamaaa, Sari yang tiba-tiba jadi kalem banget di video, Ratna kuyus yang sok imut banget, Mbak Pusdima, Penjaga Kampus FKM (keliatan banget siapa yang punya rencana usil seperti ini…), Bule nasi kuning (darimana nih kameramen dapet bule’-bule’), and the last Chiko yang alayy banget (Saya tahu dek kamu punya karakter melankolis, tapi saya malu liat wajah jelekmu yang sampe-sampe Leni shock liat ekspresi kamu di shoot, hee. Tapi kata-katamu bikin saya selalu mewekk sampai hari ini). Di akhir-akhir slide ditulis, “Sampai kemarinpun UJUR masih memikirkan Risna”. Ini katanya merupakan balasan dari kata-kataku yang menganggap mereka nggak peduli sama aku.

Belum habis airmataku, Chiko yang tadinya keluar ruangan, kini muncul kembali dengan membawa birthday’s cake (hadoeh, ada lilin 22nya lagi. Malu sangaaadh rasanya diriku). Tapi ueenak kuenya. Denger-denger si Dhepta yak yang bela-belain nyari kuenya? Makasih ya, dek syg.

Finally, kue rasa blueberrynya dimakan rame-rame se-ujur-an… Tapi sebelum itu aku ngadu dulu donk seberapa sedih aku di hari kemarin (sambil terus memproduksi airmata). Maaf ya Chiko, kamu memegang kue itu lumayan lama (maaf karena harus melemparmu dengan tisu bekas airmata, itu memang sengaja).



Hmm, 22 tahun lebih dua belas jam usiaku kini. Hampir genap dua hari dua malam pula mataku masih mudah menangis. Menangis komplikasi antara sedih, terharu, dan sedih. Begitulah hidup…

Mungkin hari ini kembali menangis, namun semua ini proses pendewasaan. Meski pahit, meski susah, semoga semua bisa terlewati. All iz well...

Bila hari ini ada kenyataan yang belum bisa diterima, semoga esok kita menemukan pencerahan bahwa kita memerlukan kenyataan pahit untuk lebih kuat dan tegar.





Special thanks to:

Allah, yang memberi warna di penggenapan usiaku

Ortu + kakek + Nenek + om + tante + Adek-adek, speechless

All crew Ujur, makasih atas kecuekan dan kesengajaan juteknya. Menyakitkan @,@. Dan aku nggak pernah menyangka, aku bisa jadi korban seperti ini

Sari yang bela-belain bikin video dalam waktu semalam. Cepet sembuh yaaa...

Ratna dan Leni yang ikut kejar-kejaran bareng Sari nyari Chiko yang sangat kusayang dan Dhepta di Audit.

Si Hehest adekku sayang yang selalu pertama dalam urusan menangis,

Si Nadiah yang katanya mau ikutan nangis ya kemarin? (Maaf ya dink sayang, saya memang mudah mempengaruhi orang untuk ikutan nangis, hee, ngeles.com)

Dwi ndut yang super ceria untuk urusan desain dan media,

Nisa si kakak yang lumayan tomboy,

Daniel, Ibad, Naufal, Ari, Luthfi, Wahyudi, Chamid (Mid, di tunggu di UJur J )

Ardiiii, kangeeen banget sama kamu

Handri, jalan-jalan donk ke Ujur

Kak Wawan yang udah jadi tumpahan curhatku (Makasih kak udah dipantau :D)

Dimas yang telat ngucapin, tolong besok tanggal 15 anak Ujur ditraktir ya? hee

Dan seluruh new family Ujur, mari semangat BERBAGI DAN MENGINSPIRASI!

Ohya satu lagi, buat Kak MAC . makasih penguatannya kak.. Sodara selamanya



(Kalau catatan ini ga nyambung, mohon dimaklumi. Berarti pikiran dan tangan saya belum matching hari ini :D )

Selamanya Kita adalah Bayi

"Semua orang tak luput dari kesalahan dan kekhilafan," kata Yusuf Subrata-suami Cut Tari yang duduk setia disamping Tari menghadapi puluhan sorot kamera.
Yah, tak ada yang hidup tanpa kesalahan. Begitupun luna maya, ariel, cut tari, dan cut cut lainnya ada dalam posisi sama layaknya manusia biasa. Aku, kamu, dia, mereka, bahkan kita punya kesempatan yang sama untuk melakukan kesalahan. Kita tak selamanya menjadi bayi yang mulutnya masih wangi walau tak diberi pasta gigi. Kita tak selamanya menjadi bayi yang wajahnya terlihat lucu dan matanya bening tanpa dosa.
Tapi kita selamanya adalah bayi yg tiap perkembangannya selalu diperhatikan. Yang tiap ingin berdiri seringkali mengandalkan pegangan kuat sang ibu. Yg tiap langkah mungilnya punya kesempatan u/terkena jarum. Yang tiap tangan nakalnya seringkali memegang apapun yg ia mau, bahkan pisau sekalipun. Yang tiap teriakan ibunya, ada saja hal yang tak ia gubris. Yang tiap kesakitannya, ada saja sang ibu yang rela mengobatinya. Yang tiap tidurnya senantiasa dijaga agar nyenyak dan nyaman tidurnya.
Selamanya kita adalah bayi yang tiap detik nafasnya terkadang harus melawan asma. Yang tulang mungilnya begitu lemah dan mudah patah.
Selamanya kita adalah bayi yg keluar dari tempat yg paling hina. Selamanya kita a/bayi yg orangtuanya senantiasa mendidik. Selamanya kita adalah bayi yg terkadang tak peduli bahaya pisau walau telah diperingatkan. Kini kita adalah bayi yang merasakan dan menyembuhkan sendiri rasa sakit akibat kenakalannya. "Inilah harga yang harus dibayar untuk tiap tindakan."

Kita punya kesempatan untuk jatuh, tapi berusaha bangun tiap kali jatuh adalah kesempatan emas yang selalu diberikan.

Minggu, 04 Maret 2012

Kata Orang….

"Kata orang kamu nggak baik, tapi aku nggak tahu nggak baiknya kamu di mana.
Kata orang kamu nggak beneran seperti itu, tapi aku nggak tahu sisi kamu yang lain itu seperti apa.
Kata orang kamu itu bohong sama aku, tapi aku belum menemukan kebohongan itu."


Dari kebingunganku ini, aku lantas berpikir, apa orang yang kumaksud terlalu pintar hingga aku tak tahu celahnya yang lain? Apa aku terlalu polos hingga untuk mengerti ini semua, akupun tak sampai? Atau aku terlalu bodoh untuk memahami kepintarannya?
Demi Tuhan, aku tak tahu apapun tentang kebenaran tanggapan orang tentang dia yang telah kuanggap teman ini. Apakah penilaianku yang kuanggap menemukannya berteman denganku dalam kejujuran dan ketulusan itu salah?
Kalau kata orang itu benar, pastinya aku akan patah hati. Bukan patah hati karena menaruh hati padanya. Namun karena terlanjur percaya padanya yang tulus berteman tanpa ada embel-embel negatif padaku.
Namun kalau kata orang itu salah, pastinya aku akan sangat bersalah karena menudingnya dengan hal yang tidak benar.
Then, what’s the truth one? Kata orang atau kata hatiku yang menilaimu?
Harus kututurkan kembali, dari awal aku berteman dengannya tanpa pernah memikirkan apakah background kami sama? Apakah pandangan kami sama? Aku sangat berusaha mengabaikan kalau-kalau ada hal yang tak sama dari kami. Karena konsepku dalam berteman adalah, “Lihat persamaannya, bukan perbedaannya.” Lagipula aku sangat percaya setiap orang pasti punya energi baiknya, maka kupilih untuk berteman bersama energi baik orang ini.
Selain itu, bukankah kata Allah berprasangka baik itu lebih utama? Maka semoga prasangka baikku ini diikuti oleh anggukan Allah sehingga memang begitulah adanya. Kalaupun tidak, aku akan sangat berusaha untuk tidak menyesali tindakan yang kuambil.
“Biarlah orang lain berlaku tidak baik padaku, asal aku tidak! Jaga aku, ya Rabb”.

Sampai sekarangpun, aku (masih) menganggapmu beneran baik, teman..